Negeriku,
Pilihanku
Hai, namaku
Tricia Anggalita Hourani. Panggil saja aku Tricia. Aku bisa dibilang keturunan
dari dua negara, papaku berasal dari Inggris dan tetap menjadi warga negara sana.
Sementara mama asli dari Indonesia dan seorang muslim, jadi ayahku mengikuti
keyakinan yang dijalani oleh mamaku.
Tetapi, keluargaku menetap di Indonesia, yang berarti aku memiliki dua
kewarganeraan.
Sejak kecil, aku tinggal di Indonesia,
tepatnya di Surabaya. Karena mama dan papa bekerja disebuah perusahaan di kota
pahlawan ini. Di kota ini mereka berdua dipertemukan, dan akhirnya memutuskan
untuk menikah dan tetap tinggal disini. Aku bersekolah di sebuah sekolah swasta
saat SD, dan sekolah negri di SMP. Tetapi, saat aku hampir lulus SMP, kedua
orang tuaku bertengkar hebat karena suatu hal yang tidak aku mengerti hingga
kini, karena mereka tidar pernah memberitahuku tentang apa yang terjadi.
Tidak lama setelah kejadian itu, mereka
bercerai, dan aku mengikuti papa ke negeri asalnya, Inggris. Tetapi aku
berfikir, lebih baik aku tinggal disini terlebih dahulu hingga SMP ku selesai.
Mereka mengerti, ini akan terasa sangat menekanku, karena sebentar lagi aku
akan melaksanakan ujian akhir nasional. Tetapi aku tidak patah semangat untuk
itu semua, dan bekerja keras demi tujuan yang ingin kucapai selama ini, aku
ingin kuliah jurusan Kedokteran di Univertas
Cambridge, Pembroke College, United Kingdom.
Akhirnya ujian akhir pun selesai, dan
nilai pun segera muncul. Sementara aku menanti nilai ujianku itu, papa sudah
mengurus paspor ku untuk pergi ke Inggris secepatnya setelah semua mengerti
nilaiku.Setelah beberapa hari menunggu, akhirnya nialipun muncul di papan mading sekolah. Disini sangat ramai akan
siswa kelas 9 yang ingin melihat nilanya masing-masing. Dan ternyata , aku
adalah siswa dengan nilai terbaik di sekolah, dan juga menduduki posisi pertama
se-Jawa Timur. Aku sangat bangga dengan apa yang kuraih. Dan aku akan segera
mengabari keluargaku dirumah.
“Papaaaa... coba tebak, hari ini
kira-kira ada apa disekolahku” ucapku membuat papa kaget dan segera
menghampiriku.
Papa terlihat senang saat aku datang “ada
apa anakku sayang? Hmm.. apa ya? Papa tidak mengerti, coba jelaskan apa yang
terjadi!” sahut papa dengaan nada penasaran
“Papa, hari ini nilai telah diumumkan..
dan aku mendapatkan nilaiiii.......” sahutku mencoba membuat papa penasaran.
“dapat berapa nih anak papa? Papa
penasaran niih, kasih tau papa yaa Tricia”
“mmm.. aku dapat nilai terbaik se-sekolah
sekaligus se-Jawa Timur.. kata guru Tricia, papa dan mama diundang kesekolah
lusa, aku tidak tahu ada apa, yang jelas katanya surprised. Aku yakin mama
ingin mendengarkan ini semua langsung dariku paa.. tolong antar aku ke rumah
mama” jawabku dengan memaksa papa.
“baiklah, papa yakin mama sangat bangga
memiliki anak secerdas dan sebaik kamu Tricia”
“Yeeaaayy,,, papa baiiikk banget” jawabku
senang.
Sesampai dirumah mama, aku langsung menghampiri
mama dan memberitahu apa yang terjadi. Mama pun bahagia dan bersedia datang ke
sekolah. Karena mama berfikir, guruku pasti memberi sesuatu yang akan mebuatku
menjadi yang terbaik kedepannya.
Lusa pun datang, mereka bergegas ke
sekolah. Tetapi tidak berangkat berdua, melainkan berangkat sendiri-sendiri
dari rumah mereka masing-masing . Dan akupun hanya menanti kabar dirumah sambil
mencoba berfikir apa yang akan guruku bicarakan kepada mereka sambil aku
mendengarkan lagu dari “One
Direction-Rock Me”.
Mereka akhirnya datang sambil membawa
sebuah amplop coklat yang membuatku tambah penasaran. Mereka menghampiriku dan
memberitahuku apa yang terjadi. Ternyata, mamadan papa menghampiri guru
pendampingku, kepala sekolah, sekaligus wakil dari dinas pendidikan provinsi.
Aku merasa terkejut karena amplop yang papa bawa berisi surat yang menyatakan
bahwa kesediaanku untuk memiliki sebuah beasiswa yang dapat kugunakan saat aku
kuliah. Surat itu boleh kugunakan untuk kuliah ditempat manapun yang
kuinginkan, walaupun sekarang aku masih SMP.
Teeettt...
Bel rumah berbunyi, ternyata sahabat
baikku, Sasa, tiba-tiba datang kerumahku dan memencet bel rumahku.
“Triciaaaa....” teriaknya memanggilku diluar pintu.
Aku pun segera membuka pintu dan
menghampirinya. “ Sasa? Mengapa kau bersedih?”
“Tricia, kalau kamu benar benar meninggalkan
negara ini, kumohon, jangan pernah melupakanku dan juga negara yng pernah kamu
tempati selama ini. Karena apapun yang terjadi aku tidak akan melupakanmu”
dengan nada bersedih ia berbicara dengan serius dihadapanku.
“Aku tidak akan melupakanmu Sa,
percayalah.”
“Triciaaa..!!” ia pun tambah menangis
sejadi-jadinya dan memeluk erat tubuhku seperti tak rela kutinggalkan.
“Sasa, aku janji, suatu saat aku pasti
mengunjungimu”
“Baiklah, kamu sudah janji dan harus
ditepati. Maaf Tricia, aku harus cepat pulang karena mamaku sibuk dikantor dan
aku harus menjaga rumah” ia pulang dengan raut wajah bersedih. Sambil
melihatnya pulang, akupun meneteskan air mata karena aku yakin tidak akan mudah
menepati janjiku kepadanya.
Kriingg...
Telpon berdering dan papa segera
mengangkatnya. Aku yang penasaran akhirnya turun menuju tempat telpon berada.
Aku melihat papa sangat serius bicara dengan lawan bicaranya itu.
Papa segera menghampiriku dan berkata
“tricia, kita akan menuju airport
besok, kamu segera persiapkan kopermu! Papa tidak mau kamu merasa bersedih
ketika barang kesayanganmu tertinggal. Segeralah bersiap nak!”
“Tapi pa, aku masih belum ingin pergi”
“Tidak bisa sekarang, papa minta maaf,
kita harus cepat untuk keberangkatan kita besok”
Akhirnya aku pun segera mempersiapkan
semuanya. Dengan air mata yang membahasi pipiku, aku tetap akan berangkat ke
Inggris besok.
Esok pun datang. Aku segera masuk ke bandara
dan terbang ke Inggris. Diperjalanan, aku hanya ingin tidur, karena aku tidak
ingin menangis saat dipesawat.
Pesawat pun perlahan merendah dan
sampailah aku di negeri Kerajaan yang sangat menyenangkan ini, Inggris. Papa
segera mencarikan taksi untuk perjalanan kita selanjutnya, yaitu kerumah
keluarga besar papa yang tak pernah kukunjungi sebelumnya, tetapi keluarga papa
pernah berkunjung ke Indonesia beberapa kali. Ada Lise Hourani, yang tidak lain
adalah anak dari kakak papa, ada juga Soumaya Hourani dan AlexanderHourani yang
sangat baik hati kepadaku. Mereka semua menyenangkan, tetapi aku mulai
mengingat kembali Indonesia dan teman-temanku disana.
Selama bertahun-tahun di West Yorkshire,
Inggris dan mengenyam pendidikan SMA disana dan juga keluar dengan predikat
siswa terbaik. Aku akhirnya menggunakan beasiswaku yang kuraih dulu ketika SMP di
Indonesia dan mendaftar di University
yang selama ini aku imipikan, yaitu University
of Cambridgejurusan Kedokteran. Aku
pun diterima di salah satu Universitas paling baik di dunia ini, karena Cambridge adalah Universitas tertua ke-2
setelah Birmingham, dan sekaligus universitas langganan keturunan Ekonom
terkenal asal Inggris, Charles Darwin.
Karena aku juga termasuk penggemar dari salah satu keturunan Darwin, yaitu
aktor tampan Skandar Keynes yang
pernah bersekolah di universitas tersebut dengan jurusan History of Muslim and Arabian Languange. Sangat senang rasanya
sekolah di universitas ini, serasa dunia milik sendiri.
Setelah 6 semester kujalani, kuliahpun
usai, dan lagi-lagi aku mendapatkan predikat yang sama, yaitu sebagai siswa
terbaik se angkatanku. Tetapi, aku mendapatkan tawaran dari Rumah Sakit di Las
Vegas, Nevada, Amerika Serikat yang terkenal akan kualitas dokter dan
perawatnya yang sangat bermutu, dan fasilitas kesehatan terlengkap yang ada di
seluruh dunia, dengan gaji besar yang ada di depan mata.
Tetapi aku menolaknya dengan rasa percaya
diri, karena jika aku menerimanya, ke-warganegaraan ku di Indonesia akan
dicabut begitu saja dan hanya menjadi warga negara Inggris. Aku tidak
menginginkannya, karena aku mengingat janji lamaku kepada sahabatku. Dan aku
memutuskan untuk tetap menjaga identitasku selama ini, yaitu menjadi warga
negara Indonesia dan juga Inggris.
Tidak lama setelah itu, aku dan papaku
berniat untuk kembali ke Indonesia dan melamar pekerjaan disana, aku optimis
bisa menjadi pekerja tetap di negeri tercintaku tersebut. Walau dengan
fasilitas yang jelas di pandang kurang memadai dan juga gaji yang tidak begitu
membuat orang-orang kagum. Aku tidak perduli akan semua itu.
Aku segera mengecek ulang pasporku dan
papa, apakah masih bisa digunakan atau tidak. Tetapi aku harus menunggu selama
2 hari tentang kepastian paspor tersebut. Rasanya lama sekali menunggu kabar
tentang itu. Karena aku tidak sabar ingin bertemu mama dan saudara-saudaraku
disana. Dan aku juga sangat tidak sabar untuk menepati janjiku kepada sahabatku
Sasa, karena aku sangat merasa bersalah bila tidak menepati itu, karena aku
sudah menganggap Sasa sebagai teman yang paling aku sayangi di dunia ini walau
kita sudah terpisah hampir 7 tahun lamanya sejak kita berusia 15 tahun hingga
saat ini aku berusia 22 tahun.
Dua hari kemudian aku mendapat telpon
dari seseorang yang mengabariku tentag pasporku. Ternyata pasporku dan papa
masih bisa digunakan. Aku pun segera bergegas ke bandara untuk membeli 2 ticket pesawat, untukku dan papa. Aku
memesan ticket untuk hari esok, karena
aku sudah tidak sabar lagi. Aku bergegas pulang dan menghampiri papa dan segera
packing semua barang milikku yang ada
di rumah keluarga besar papa.
Lise mengetuk pintu kamarku dan aku
bergegas membukanya “ Hi Lise” ucapku sambil tersenyum kepada Lise.
“Tricia,, I can’t look you go out from my
house.. I will you stay here forever and always do smart idea together! Please,
don’t leave me” sahut Lise dengan nada sedikit bersedih, sama dengan apa yang
dilakukan Sasa dahulu.
“Lise, I know you are very good, but i
must leave from here, sorry..”
“Tricia, Im sorry when i make some
mistake or more, but you are my best friend in the world” ia menjawab dengan
meneteskan sedikit air mata.
“Oh Lise.. you haven’t mistake to me...”
sambil aku menenangkan perasaan Lise.
“Triciaa... dont leave me.”
“I’m sorry, but you can visit my country”
sambil aku tersenyum merayu Lise agar tak menangis.
“Oke, fine” jawab Lise dengan tenang.
Melihat Lise seperti itu, aku menjadi
sangat ingat dengan Sasa saat dia tidak dapat merelakanku pergi ke Inggris. Aku
pun turut meneteskan air mata lagi.
Aku segera menelpon mama dan mengabarinya
jika aku akan berangkat menemuinya di Indonesia. Dan aku meminta mamauntuk
mengabari Sasa bahwa aku akan memenuhi janjiku. Aku yakin Sasa sangat bahagia
Hari itu pun terjadi, aku dan papa
berangkat ke bandara. Sambil aku menunggu pesawat, aku menelpon mama dan entah
mengapa suara mama sangat berbeda. Ternyata itu adalah suara Sasa, aku sangat
senang bercampur terharu, karena aku dapat berbicara walau sekedar dalam
telepon dengan Sasa. Nada suara Sasa pun juga seperti terharu dengan penuh
perasaan bahagia.
Pesawat pun telah tiba, dan aku bergegas
naik menuju pesawat tujuan Indonesia. Aku merasa perasaanku kali ini sangatlah
sama dengan perasaanku saat pertama kalinya meninggalkan Indonesia. Sedih
karena meninggalkan teman di Inggris, apalagi meninggalkan Lise yang sangat
baik dan sayang terhadap aku.
Beberapa jam kemudian, pesawat sampaidi
bandara Juanda, Sidoarjo. Kali ini, aku yang mencarikan taksi untuk aku dan
papa. Di taksi aku tidak ingin memberi kabar pada mama, karena aku ingin
memberi surprised bagi mama.
1 jam berlalu, dan aku sampai dirumah
mama. Aku melihat dari luar rumah, banyak alas kaki yang tergeletak di depan
rumah. Tetapi, semua alas kaki itu seperti sepatu para pejabat yang sangat
berkelas. Aku menekan tombol bel di depan rumah mama. Mama pun keluar dengan
mengajak seorang gadis perempuan yang sekiranya sebaya denganku.
Gadis itu pun keluar dan langsung
berteriak dan memelukku erat-erat, seperti yang pernah Sasa lakukan “Triciiaaa..!!!”
teriak gadis itu memanggilku.
“Maaf, kamu siapa?” jawabku bingung.
“Tricia, ini aku Sasa. Masa kamu tidak
mengenaliku?” sambil melepaskan pelukannya dan menatapku dengan tajam.
“Ha?? Sasa? Ini beneran kamu Sa?” sambil
mulutku ternganga karena terkejut akan pernyataan ini.
“Iya Tricia, ini aku Sasa... kamu
ternyata beneran menuhin janjimu ke aku Cia.. makasih banyaakk...”
“Sasa, aku janji denganmu dan aku harus
penuhi itu semua” lalu kupeluk tubuh Sasa yang hangat dan meneteskan air mata
hingga membasahi bahu Sasa.
Temu kangen ku dengan Sasa sangat
menyenangkan dan mengharukan. Tetapi, aku melihat beberapa orang ber jas keluar
dari rumah mama dan berkata “apakah kamu Tricia?”
Aku melihatya dan merasa bingung “iya
saya sendiri, ada apa ya?”
“Anda akan dipekerjakan oleh pemerintah
sebagai manager Rumah Sakit ternama di Indonesia, apakah anda setuju?” sambil
menunjukkan surat bermaterai dibawahnya.
“Apa? Benarkah? Saya mau pak” ucapku
senang dan kaget.
“Tanda tangani surat ini jika anda
setuju, dan anda akan di percayakan oleh Presiden sebagai duta kesehatan
nasional, karena anda telah mempunyai prestasi yang sangat mengesankan sekali
di negeri yang sangat berkelas seperti Inggris. Selamat untuk anda bu” jawab
lelaki tersebut.
“Terima kasih pak sebelumnya, tetapi anda
siapa sebenarnya?”
“Saya Menteri Kesehatan Nasional. Yang
ingin sekali menawarkan anda pekerjaan ini, walaupun gaji tak seberapa besarnya
seperti di Amerika yang anda tolak itu” sambil menunjukkan surat itu kepadaku.
Aku meraih bolpoin dan menandatangani
surat pernyataan bermaterai tersebut “Baiklah pak, saya setuju dengan itu semua,
saya sangat bersedia”
“Selamat bu Tricia Anggalita Hourani,
anda menjadi bagian dari kami sekarang” ucapanya lalu berjabat tangan denganku.
Keesokan harinya, aku beserta mama dan
papaku diundang ke Istana Presiden Republik Indonesia, dan dilantik sebagai
Duta Kesehatan Nasional. Aku bersyukur bisa meraih kesuksesan yang luar biasa
seperti ini, aku tidak pernah mengira akan bisa meraih kesukseran di usiaku
yang sangat muda. Menjadi Duta Kesehatan Nasional, sekaligus berjuang demi
tetap menjadi warganegara Indonesia yang setia. Walaupun banyak godaan yang
menghampiriku untuk menjadi warganegara lain saat aku berada di negeri tetangga.
Terima kasih Mama, Terima kasih Papa. Yang
telah membantuku meraih kesuksesanku selama ini, dan selalu mengingatkanku agar
terus giat belajaruntuk meraih cita-cita yang kuinginkan.