Sabtu, 17 November 2012

Negeriku, Pilihanku



Negeriku, Pilihanku
         Hai, namaku Tricia Anggalita Hourani. Panggil saja aku Tricia. Aku bisa dibilang keturunan dari dua negara, papaku berasal dari Inggris dan tetap menjadi warga negara sana. Sementara mama asli dari Indonesia dan seorang muslim, jadi ayahku mengikuti keyakinan yang dijalani oleh mamaku.  Tetapi, keluargaku menetap di Indonesia, yang berarti aku memiliki dua kewarganeraan.
       Sejak kecil, aku tinggal di Indonesia, tepatnya di Surabaya. Karena mama dan papa bekerja disebuah perusahaan di kota pahlawan ini. Di kota ini mereka berdua dipertemukan, dan akhirnya memutuskan untuk menikah dan tetap tinggal disini. Aku bersekolah di sebuah sekolah swasta saat SD, dan sekolah negri di SMP. Tetapi, saat aku hampir lulus SMP, kedua orang tuaku bertengkar hebat karena suatu hal yang tidak aku mengerti hingga kini, karena mereka tidar pernah memberitahuku tentang apa yang terjadi.
       Tidak lama setelah kejadian itu, mereka bercerai, dan aku mengikuti papa ke negeri asalnya, Inggris. Tetapi aku berfikir, lebih baik aku tinggal disini terlebih dahulu hingga SMP ku selesai. Mereka mengerti, ini akan terasa sangat menekanku, karena sebentar lagi aku akan melaksanakan ujian akhir nasional. Tetapi aku tidak patah semangat untuk itu semua, dan bekerja keras demi tujuan yang ingin kucapai selama ini, aku ingin kuliah jurusan Kedokteran di Univertas Cambridge, Pembroke College, United Kingdom.
       Akhirnya ujian akhir pun selesai, dan nilai pun segera muncul. Sementara aku menanti nilai ujianku itu, papa sudah mengurus paspor ku untuk pergi ke Inggris secepatnya setelah semua mengerti nilaiku.Setelah beberapa hari menunggu, akhirnya nialipun muncul di papan mading sekolah. Disini sangat ramai akan siswa kelas 9 yang ingin melihat nilanya masing-masing. Dan ternyata , aku adalah siswa dengan nilai terbaik di sekolah, dan juga menduduki posisi pertama se-Jawa Timur. Aku sangat bangga dengan apa yang kuraih. Dan aku akan segera mengabari keluargaku dirumah.
       “Papaaaa... coba tebak, hari ini kira-kira ada apa disekolahku” ucapku membuat papa kaget dan segera menghampiriku.         
       Papa terlihat senang saat aku datang “ada apa anakku sayang? Hmm.. apa ya? Papa tidak mengerti, coba jelaskan apa yang terjadi!” sahut papa dengaan nada penasaran
       “Papa, hari ini nilai telah diumumkan.. dan aku mendapatkan nilaiiii.......” sahutku mencoba membuat papa penasaran.
       “dapat berapa nih anak papa? Papa penasaran niih, kasih tau papa yaa Tricia”
       “mmm.. aku dapat nilai terbaik se-sekolah sekaligus se-Jawa Timur.. kata guru Tricia, papa dan mama diundang kesekolah lusa, aku tidak tahu ada apa, yang jelas katanya surprised. Aku yakin mama ingin mendengarkan ini semua langsung dariku paa.. tolong antar aku ke rumah mama” jawabku dengan memaksa papa.
       “baiklah, papa yakin mama sangat bangga memiliki anak secerdas dan sebaik kamu Tricia”
       “Yeeaaayy,,, papa baiiikk banget” jawabku senang.
       Sesampai dirumah mama, aku langsung menghampiri mama dan memberitahu apa yang terjadi. Mama pun bahagia dan bersedia datang ke sekolah. Karena mama berfikir, guruku pasti memberi sesuatu yang akan mebuatku menjadi yang terbaik kedepannya.
       Lusa pun datang, mereka bergegas ke sekolah. Tetapi tidak berangkat berdua, melainkan berangkat sendiri-sendiri dari rumah mereka masing-masing . Dan akupun hanya menanti kabar dirumah sambil mencoba berfikir apa yang akan guruku bicarakan kepada mereka sambil aku mendengarkan lagu dari “One Direction-Rock Me”.
       Mereka akhirnya datang sambil membawa sebuah amplop coklat yang membuatku tambah penasaran. Mereka menghampiriku dan memberitahuku apa yang terjadi. Ternyata, mamadan papa menghampiri guru pendampingku, kepala sekolah, sekaligus wakil dari dinas pendidikan provinsi. Aku merasa terkejut karena amplop yang papa bawa berisi surat yang menyatakan bahwa kesediaanku untuk memiliki sebuah beasiswa yang dapat kugunakan saat aku kuliah. Surat itu boleh kugunakan untuk kuliah ditempat manapun yang kuinginkan, walaupun sekarang aku masih SMP.
       Teeettt...
       Bel rumah berbunyi, ternyata sahabat baikku, Sasa, tiba-tiba datang kerumahku dan memencet bel rumahku. “Triciaaaa....” teriaknya memanggilku diluar pintu.
       Aku pun segera membuka pintu dan menghampirinya. “ Sasa? Mengapa kau bersedih?”
        “Tricia, kalau kamu benar benar meninggalkan negara ini, kumohon, jangan pernah melupakanku dan juga negara yng pernah kamu tempati selama ini. Karena apapun yang terjadi aku tidak akan melupakanmu” dengan nada bersedih ia berbicara dengan serius dihadapanku.
       “Aku tidak akan melupakanmu Sa, percayalah.”
       “Triciaaa..!!” ia pun tambah menangis sejadi-jadinya dan memeluk erat tubuhku seperti tak rela kutinggalkan.
       “Sasa, aku janji, suatu saat aku pasti mengunjungimu”
       “Baiklah, kamu sudah janji dan harus ditepati. Maaf Tricia, aku harus cepat pulang karena mamaku sibuk dikantor dan aku harus menjaga rumah” ia pulang dengan raut wajah bersedih. Sambil melihatnya pulang, akupun meneteskan air mata karena aku yakin tidak akan mudah menepati janjiku kepadanya.
       Kriingg...
       Telpon berdering dan papa segera mengangkatnya. Aku yang penasaran akhirnya turun menuju tempat telpon berada. Aku melihat papa sangat serius bicara dengan lawan bicaranya itu.
       Papa segera menghampiriku dan berkata “tricia, kita akan menuju airport besok, kamu segera persiapkan kopermu! Papa tidak mau kamu merasa bersedih ketika barang kesayanganmu tertinggal. Segeralah bersiap nak!”
       “Tapi pa, aku masih belum ingin pergi”
       “Tidak bisa sekarang, papa minta maaf, kita harus cepat untuk keberangkatan kita besok”
       Akhirnya aku pun segera mempersiapkan semuanya. Dengan air mata yang membahasi pipiku, aku tetap akan berangkat ke Inggris besok.
       Esok pun datang. Aku segera masuk ke bandara dan terbang ke Inggris. Diperjalanan, aku hanya ingin tidur, karena aku tidak ingin menangis saat dipesawat.
       Pesawat pun perlahan merendah dan sampailah aku di negeri Kerajaan yang sangat menyenangkan ini, Inggris. Papa segera mencarikan taksi untuk perjalanan kita selanjutnya, yaitu kerumah keluarga besar papa yang tak pernah kukunjungi sebelumnya, tetapi keluarga papa pernah berkunjung ke Indonesia beberapa kali. Ada Lise Hourani, yang tidak lain adalah anak dari kakak papa, ada juga Soumaya Hourani dan AlexanderHourani yang sangat baik hati kepadaku. Mereka semua menyenangkan, tetapi aku mulai mengingat kembali Indonesia dan teman-temanku disana.
       Selama bertahun-tahun di West Yorkshire, Inggris dan mengenyam pendidikan SMA disana dan juga keluar dengan predikat siswa terbaik. Aku akhirnya menggunakan beasiswaku yang kuraih dulu ketika SMP di Indonesia dan mendaftar di University yang selama ini aku imipikan, yaitu University of Cambridgejurusan Kedokteran. Aku pun diterima di salah satu Universitas paling baik di dunia ini, karena Cambridge adalah Universitas tertua ke-2 setelah Birmingham, dan sekaligus universitas langganan keturunan Ekonom terkenal asal Inggris, Charles Darwin. Karena aku juga termasuk penggemar dari salah satu keturunan Darwin, yaitu aktor tampan Skandar Keynes yang pernah bersekolah di universitas tersebut dengan jurusan History of Muslim and Arabian Languange. Sangat senang rasanya sekolah di universitas ini, serasa dunia milik sendiri.
       Setelah 6 semester kujalani, kuliahpun usai, dan lagi-lagi aku mendapatkan predikat yang sama, yaitu sebagai siswa terbaik se angkatanku. Tetapi, aku mendapatkan tawaran dari Rumah Sakit di Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat yang terkenal akan kualitas dokter dan perawatnya yang sangat bermutu, dan fasilitas kesehatan terlengkap yang ada di seluruh dunia, dengan gaji besar yang ada di depan mata.
       Tetapi aku menolaknya dengan rasa percaya diri, karena jika aku menerimanya, ke-warganegaraan ku di Indonesia akan dicabut begitu saja dan hanya menjadi warga negara Inggris. Aku tidak menginginkannya, karena aku mengingat janji lamaku kepada sahabatku. Dan aku memutuskan untuk tetap menjaga identitasku selama ini, yaitu menjadi warga negara Indonesia dan juga Inggris.
       Tidak lama setelah itu, aku dan papaku berniat untuk kembali ke Indonesia dan melamar pekerjaan disana, aku optimis bisa menjadi pekerja tetap di negeri tercintaku tersebut. Walau dengan fasilitas yang jelas di pandang kurang memadai dan juga gaji yang tidak begitu membuat orang-orang kagum. Aku tidak perduli akan semua itu.
       Aku segera mengecek ulang pasporku dan papa, apakah masih bisa digunakan atau tidak. Tetapi aku harus menunggu selama 2 hari tentang kepastian paspor tersebut. Rasanya lama sekali menunggu kabar tentang itu. Karena aku tidak sabar ingin bertemu mama dan saudara-saudaraku disana. Dan aku juga sangat tidak sabar untuk menepati janjiku kepada sahabatku Sasa, karena aku sangat merasa bersalah bila tidak menepati itu, karena aku sudah menganggap Sasa sebagai teman yang paling aku sayangi di dunia ini walau kita sudah terpisah hampir 7 tahun lamanya sejak kita berusia 15 tahun hingga saat ini aku berusia 22 tahun.
       Dua hari kemudian aku mendapat telpon dari seseorang yang mengabariku tentag pasporku. Ternyata pasporku dan papa masih bisa digunakan. Aku pun segera bergegas ke bandara untuk membeli 2 ticket pesawat, untukku dan papa. Aku memesan ticket untuk hari esok, karena aku sudah tidak sabar lagi. Aku bergegas pulang dan menghampiri papa dan segera packing semua barang milikku yang ada di rumah keluarga besar papa.
       Lise mengetuk pintu kamarku dan aku bergegas membukanya “ Hi Lise” ucapku sambil tersenyum kepada Lise.
       “Tricia,, I can’t look you go out from my house.. I will you stay here forever and always do smart idea together! Please, don’t leave me” sahut Lise dengan nada sedikit bersedih, sama dengan apa yang dilakukan Sasa dahulu.
       “Lise, I know you are very good, but i must leave from here, sorry..”
       “Tricia, Im sorry when i make some mistake or more, but you are my best friend in the world” ia menjawab dengan meneteskan sedikit air mata.
       “Oh Lise.. you haven’t mistake to me...” sambil aku menenangkan perasaan Lise.
       “Triciaa... dont leave me.”
       “I’m sorry, but you can visit my country” sambil aku tersenyum merayu Lise agar tak menangis.
       “Oke, fine” jawab Lise dengan tenang.
       Melihat Lise seperti itu, aku menjadi sangat ingat dengan Sasa saat dia tidak dapat merelakanku pergi ke Inggris. Aku pun turut meneteskan air mata lagi.
       Aku segera menelpon mama dan mengabarinya jika aku akan berangkat menemuinya di Indonesia. Dan aku meminta mamauntuk mengabari Sasa bahwa aku akan memenuhi janjiku. Aku yakin Sasa sangat bahagia
       Hari itu pun terjadi, aku dan papa berangkat ke bandara. Sambil aku menunggu pesawat, aku menelpon mama dan entah mengapa suara mama sangat berbeda. Ternyata itu adalah suara Sasa, aku sangat senang bercampur terharu, karena aku dapat berbicara walau sekedar dalam telepon dengan Sasa. Nada suara Sasa pun juga seperti terharu dengan penuh perasaan bahagia.
       Pesawat pun telah tiba, dan aku bergegas naik menuju pesawat tujuan Indonesia. Aku merasa perasaanku kali ini sangatlah sama dengan perasaanku saat pertama kalinya meninggalkan Indonesia. Sedih karena meninggalkan teman di Inggris, apalagi meninggalkan Lise yang sangat baik dan sayang terhadap aku.
       Beberapa jam kemudian, pesawat sampaidi bandara Juanda, Sidoarjo. Kali ini, aku yang mencarikan taksi untuk aku dan papa. Di taksi aku tidak ingin memberi kabar pada mama, karena aku ingin memberi surprised bagi mama.
       1 jam berlalu, dan aku sampai dirumah mama. Aku melihat dari luar rumah, banyak alas kaki yang tergeletak di depan rumah. Tetapi, semua alas kaki itu seperti sepatu para pejabat yang sangat berkelas. Aku menekan tombol bel di depan rumah mama. Mama pun keluar dengan mengajak seorang gadis perempuan yang sekiranya sebaya denganku.
       Gadis itu pun keluar dan langsung berteriak dan memelukku erat-erat, seperti yang pernah Sasa lakukan “Triciiaaa..!!!” teriak gadis itu memanggilku.
       “Maaf, kamu siapa?” jawabku bingung.
       “Tricia, ini aku Sasa. Masa kamu tidak mengenaliku?” sambil melepaskan pelukannya dan menatapku dengan tajam.
       “Ha?? Sasa? Ini beneran kamu Sa?” sambil mulutku ternganga karena terkejut akan pernyataan ini.
       “Iya Tricia, ini aku Sasa... kamu ternyata beneran menuhin janjimu ke aku Cia.. makasih banyaakk...”
       “Sasa, aku janji denganmu dan aku harus penuhi itu semua” lalu kupeluk tubuh Sasa yang hangat dan meneteskan air mata hingga membasahi bahu Sasa.
       Temu kangen ku dengan Sasa sangat menyenangkan dan mengharukan. Tetapi, aku melihat beberapa orang ber jas keluar dari rumah mama dan berkata “apakah kamu Tricia?”
       Aku melihatya dan merasa bingung “iya saya sendiri, ada apa ya?”
       “Anda akan dipekerjakan oleh pemerintah sebagai manager Rumah Sakit ternama di Indonesia, apakah anda setuju?” sambil menunjukkan surat bermaterai dibawahnya.
       “Apa? Benarkah? Saya mau pak” ucapku senang dan kaget.
       “Tanda tangani surat ini jika anda setuju, dan anda akan di percayakan oleh Presiden sebagai duta kesehatan nasional, karena anda telah mempunyai prestasi yang sangat mengesankan sekali di negeri yang sangat berkelas seperti Inggris. Selamat untuk anda bu” jawab lelaki tersebut.
       “Terima kasih pak sebelumnya, tetapi anda siapa sebenarnya?”
       “Saya Menteri Kesehatan Nasional. Yang ingin sekali menawarkan anda pekerjaan ini, walaupun gaji tak seberapa besarnya seperti di Amerika yang anda tolak itu” sambil menunjukkan surat itu kepadaku.
       Aku meraih bolpoin dan menandatangani surat pernyataan bermaterai tersebut “Baiklah pak, saya setuju dengan itu semua, saya sangat bersedia”
       “Selamat bu Tricia Anggalita Hourani, anda menjadi bagian dari kami sekarang” ucapanya lalu berjabat tangan denganku.
       Keesokan harinya, aku beserta mama dan papaku diundang ke Istana Presiden Republik Indonesia, dan dilantik sebagai Duta Kesehatan Nasional. Aku bersyukur bisa meraih kesuksesan yang luar biasa seperti ini, aku tidak pernah mengira akan bisa meraih kesukseran di usiaku yang sangat muda. Menjadi Duta Kesehatan Nasional, sekaligus berjuang demi tetap menjadi warganegara Indonesia yang setia. Walaupun banyak godaan yang menghampiriku untuk menjadi warganegara lain saat aku berada di negeri tetangga.
        Terima kasih Mama, Terima kasih Papa. Yang telah membantuku meraih kesuksesanku selama ini, dan selalu mengingatkanku agar terus giat belajaruntuk meraih cita-cita yang kuinginkan.